Tari Cakter, kesenian tradisional khas Bangka yang sempat nyaris terlupakan, kembali ditampilkan setelah melalui proses revitalisasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka bersama Dewan Kesenian Bangka. Sebanyak 75 guru dan tenaga tata usaha sekolah se-Kecamatan Sungailiat membawakan tarian tersebut dalam peringatan HUT ke-23 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Revitalisasi juga diarahkan untuk mengenalkan Tari Cakter kepada generasi muda melalui pendidikan seni budaya.
Sungailiat, Bangka — Tari Cakter, salah satu kesenian tradisional khas Bangka yang sempat nyaris terlupakan, kembali tampil di hadapan masyarakat setelah melalui proses revitalisasi.
Tari Cakter ditampilkan dalam rangkaian puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di halaman Kantor Bupati Bangka, Sungailiat, pada Minggu, 10 Desember 2023.
Sebanyak 75 penari yang terdiri dari guru dan tenaga tata usaha sekolah se-Kecamatan Sungailiat membawakan Tari Cakter secara massal. Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari ribuan masyarakat yang hadir.
Dengan iringan musik khas Cakter, para penari membawakan gerakan yang menggambarkan pergaulan muda-mudi dengan penuh keceriaan. Para penari juga menggunakan kain berwarna kuning keemasan sebagai bagian dari gerakan tari.
Penampilan tersebut menjadi momentum penting dalam upaya menghidupkan kembali Tari Cakter yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan seni budaya Kabupaten Bangka.
Tari Cakter dan Sejarahnya
Tari Cakter merupakan tarian pergaulan muda-mudi yang menggambarkan kegembiraan masyarakat setelah panen sahang atau lada.
Tarian ini pernah menjadi salah satu kesenian yang ditampilkan dalam peresmian Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta pada tahun 1975.
Salah satu penari yang terlibat dalam pertunjukan tersebut adalah Y. Sugianto, yang saat itu masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pemda Sungailiat.
Dalam proses seleksi untuk pertunjukan di TMII, sekitar 200 pelajar dari sejumlah sekolah di Sungailiat mengikuti seleksi yang dilakukan oleh maestro tari Bangka, Muchtar Accros.
Dari proses tersebut terpilih 15 pelajar yang mewakili Bangka untuk tampil di TMII. Delapan di antaranya membawakan Tari Cakter, terdiri dari empat penari pria dan empat penari wanita.
Muchtar Accros dikenal sebagai seniman dan koreografer asal Sungailiat yang banyak menghasilkan karya tari tradisional. Selain Tari Cakter, salah satu karyanya yang masih dikenal hingga saat ini adalah Tari Sambut Sepintu Sedulang.
Upaya Revitalisasi Tari Cakter
Seiring berjalannya waktu, Tari Cakter semakin jarang dipentaskan dan keberadaannya mulai kurang dikenal. Kondisi tersebut mendorong Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka bersama Dewan Kesenian Bangka untuk melakukan revitalisasi.
Proses revitalisasi dilakukan dengan melibatkan dua narasumber utama yang merupakan pelaku dan pewaris Tari Cakter, yaitu Y. Sugianto dan Ernawati.
Ketua Dewan Kesenian Bangka, Wandasona Alhamd, turut terlibat dalam proses revitalisasi, khususnya dalam penataan musik. Ia juga memiliki pengalaman langsung mempelajari Tari Cakter dari Muchtar Accros sejak masih duduk di bangku SMP.
Latihan Tari Cakter dilakukan secara intensif sebelum pementasan. Para penarinya merupakan guru dan tenaga tata usaha sekolah se-Kecamatan Sungailiat. Pelibatan para pendidik tersebut diharapkan dapat mempermudah proses pengenalan dan pengajaran Tari Cakter kepada peserta didik.
Menjaga Tradisi melalui Pendidikan
Revitalisasi Tari Cakter tidak hanya bertujuan menghadirkan kembali tarian tersebut dalam berbagai pertunjukan, tetapi juga menjadikannya bagian dari proses pendidikan seni budaya.
Dengan melibatkan guru dalam proses pelatihan dan pementasan, pengetahuan mengenai ragam gerak serta nilai budaya Tari Cakter diharapkan dapat diteruskan kepada generasi muda.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk menjaga kesenian tradisional Bangka agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah Kabupaten Bangka juga mendorong agar seni dan budaya tradisional terus mendapatkan ruang untuk berkembang. Seni budaya tidak hanya menjadi bagian dari identitas daerah, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.
Melalui kolaborasi pemerintah, Dewan Kesenian Bangka, seniman, pendidik, dan masyarakat, Tari Cakter diharapkan dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Revitalisasi Tari Cakter menjadi bukti bahwa warisan budaya yang hampir terlupakan masih dapat dihidupkan kembali melalui kepedulian, kolaborasi, dan kemauan untuk menjaga tradisi.

